Selasa, 30 Maret 2010

Kickfest 2009 (Speak Louder)




Pemerintah mencanangkan tahun 2009 ini sebagai Tahun Industri Kreatif. Berbicara pengembangan Ekonomi Kreatif di Indonesia, Industri Clothing Lokal dan Distro (Distribution Outlet) adalah salah satu contoh tersukses bagaimana sebuah industri berkembang secara mandiri, berbasiskan desain dan pergerakan komunitas.

Berawal sekitar pertengahan tahun 90-an, disaat krisis melanda Indonesia, siapa sangka malah melahirkan benih daya hidup dari sekelompok anak muda di kota Bandung, membangun 5 label clothing dari sebatas kesamaan hobi (music, skateboard, BMX) dalam komunitas independent, hingga kemudian mewabah ke berbagai kota. “Sampai saat ini Jumlah clothing dan distro mencapai 1.000, yang tersebar di 94 kota di seluruh Indonesia,” ungkap Ade Andriansyah, sekertaris KICK (Kreative Independent Clothing Kommunity).

KICK adalah forum bisnis dari para pengusaha Clothing Lokal dan Distro yang dibentuk pada September 2006, demi meningkatkan dan mengeratkan komunikasi serta koordinasi untuk memajukan usahanya meliputi wilayah Legal, Business Development, Marketing Campaign dan Event. Hingga saat ini KICK sudah mengantongi 160 anggota; 60 anggota tetap dan 100 anggota terdaftar yang tersebar di 7 Kota : Bandung (Pusat), Jakarta, Yogyakarta, Makassar, Lampung, Surabaya dan Malang.

Kickfest 2009, Speak Louder!

Tahun 2009 adalah tahun ketiga penyelenggaraan Kickfest. Dilaksanakan untuk pertamakalinya di Bandung (Agustus 2007) selama 3 hari, diikuti oleh 107 clothing dari 9 kota serta sukses menghadirkan transaksi lebih dari Rp. 3.5 Milyar dengan total pengunjung sebanyak 300.000 orang. Selanjutnya pada tahun 2008 Kickfest digelar di 3 kota : Yogya (April 2008) menghadirkan 97 booth eksebitor dengan total Omzet selama 3 hari mencapai 5 Milyar Rupiah dan jumlah pengunjung 64,000 orang, Makassar (Mei 2008) dengan eksibitor sejumlah 64 booth dan Total Omzet 3 hari mencapai 5 Milyar Rupiah dan dihadiri 42,000 pengunjung.

Sebagai puncak rangkaian Kickfest 08 diselenggarakan di Lapangan Gasibu dan Ruas Jalan Diponegoro, Bandung, pada 1 – 3 Agustus 2008. Diikuti 160 booth clothing lokal dari 9 kota & 8 negara (UK & Asia Timur – British Council), 20 booth komunitas HelarFest dan 10 booth komunitas KICK (Indie Record Label, Skateboard, Low Rider, dan lain-lain). “Selama 3 hari perhelatan, sukses menghadirkan 350.000 pengunjung, dan terjadi transaksi penjualan secara fantastis sebesar 15 Milyar Rupiah,” Ujar Reza Pamungkas dari Independent Network Indonesia, event management Kickfest 08 di Bandung. “Untuk saat ini karena pelaksanaan Pemilu, Kickfest 2009 direncanakan akan digelar di 2 kota yakni Yogya dan Bandung, belum tahu bila ada animo dari kota-kota lain,” tambah Reza.

Dari 160 clothing & distro yang tergabung dalam KICK, sekitar 103 merk clothing & Distro akan hadir dalam perhelatan Kickfest09 di Jogja Expo Center (17-19 April 2009). ”Tidak semua clothing dan distro bisa ikut Kickfest karena ada proses screening dari KICK”, ungkap Joseph Siddi, Event Coordinator KICK. “Kriteria itu antara lain usia eksistensi perusahaan minimal sudah 4 tahun, memiliki visi yang sama yakni tidak sekadar jualan tapi lebih ke attitude, serta menjunjung nilai originalitas,” Tambah Joseph Siddi. Dengan kriteria tersebut, pantas kalau KICKFEST hanya akan menampilkan merk dari clothing ternama, berdedikasi tinggi pada pergerakan lokal (local movement) serta dapat dipertanggung-jawabkan originalitasnya. Sebut saja Slackers, Screamous, Invictus, Is This It, Dloops, Airplane, 347/unkl, God Inc dan banyak lagi.

”Kickfest adalah bukti keberhasilan eksistensi pergerakan lokal dalam industri kreatif tanah air,” Kata Reza Pamungkas. ”Baik ada atau tidak ada sponsor, pergerakan ini akan tetap berjalan sebagai sebuah pembuktian,” lanjut Reza. Independent Network Indonesia, yang sudah eksis selama 10 tahun dalam event management consultant merasa terhormat untuk terlibat dan bersinergi lagi dalam Kickfest 09. “Independent sedang menyiapkan program mini expo di Nagoya Jepang, untuk memperkenalkan berbagai pergerakan anak muda Indonesia, tak terkecuali produk clothing dan distro,” jelas Reza. Semoga Kickfest akan menjadi momen untuk mengangkat potensi lokal, sesuai dengan jargon Kickfest 09 berbunyi “Speak Louder”.

“Puasa belanja dulu sampai 17 April, karena hanya di Kickfest bisa didapat produk clothing dari merk-merk terkenal,” ucap Siddi. Selain menawarkan produk clothing branded, Kickfest 09 juga akan dimeriahkan oleh komunitas Independent mulai dari music, Skateboard dan sebagainya.

***

Kickfest 2009 Jogja

Kobaran api semangat tahun 2009 sebagai tahunnya industri kreatif semakin terasa. Beberapa ajang pameran industri kreatif dari bidang UKM, seni budaya dan pariwisata, kerajinan, penerbitan hingga IT sudah dilaksanakan semenjak roda waktu tahun ini bergulir. Peserta dan pengunjung pun berbondong-bondong memadati pameran yang diadakan. Pameran seolah menjadi pesta gula. Pengunjung tidak bedanya dengan semut-semut yang mengerumuni area pameran.

Padatnya pengunjung juga menjadi pemandangan umum selama 3 hari gelaran KickFest 2009 di Jogja. Ajang tahunan terbesar pameran pakaian produksi Indonesia tersebut menjadi magnet yang menarik bagi para konsumen dan pecinta fashion yang sedang in. Menurut Reza Pamungkas, Project Director KickFest, dari ribuan pengunjung hal JEC, total omzet selama 3 hari bisa mencapai milyaran. “Angka pastinya belum ada karena masih dalam tahap rekapitulasi,” katanya.

Dari data penyelenggara omzet tahun ini tidak jauh-jauh dari gelaran 2 tahun lalu bahkan bisa saja meningkat. Tahun 2007, dari total 300.000 pengunjung pameran diperoleh transaksi sebesar Rp 3,5 milyar. Sedangkan KickFest 2008 yang dilaksanakan di tiga kota, yakni Jogja, Makasar dan Bandung. Khusus untuk Jogja dan Makassar masing-masing menghasilkan transaksi sebesar Rp 5 milyar. Sedangkan untuk Bandung, transaksi mencapai Rp 15 milyar. Angka yang sangat fantastis.

Dengan transaksi seperti yang tercatat di atas, dan transaksi harian di luar pameran, dapat dikatakan bahwa ekonomi kreatif Indonesia turut ditopang oleh adanya industri clothing lokal dan distribution outlet (Distro). Tidak ada yang menyangka kan jika semua hal diatas itu diawali dari sekelompok anak muda asal Bandung yang secara diam-diam ingin bangkit dari keterpurukan? Hebatnya, semua itu mereka mulai dari keinginan untuk melayani pesanan sesama komunitas yang sehobi (musik, skateboard, BMX). Dan pelan tapi pasti, produk mereka rupanya dilirik pasar dan berkembang bak jamur di berbagai kota.

Ade Andriyansah dari Kreative Independent Clothing Komunity (KICK) menegaskan bahwa jumlah distro dan clothing di Indonesia sudah mencapai 1000, tersebar di 94 kota. Sebuah perkembangan yang luar biasa jika melihat bahwa awalnya itu semua dimulai dari 5 label clothing. Sekaligus, ini adalah bukti dan kisah dari sebuah bisnis yang dijalankan secara mandiri, independent, mengandalkan kekuatan komunitas dengan mengangkat desain yang didambakan konsumen.

Sumber: http://www.12-monkeys.com/
http://yainal.web.id/




About Kickfest Indonesia



Secara Umum, KICKFEST adalah festival clothing terbesar yang pernah ada di ASIA, kini sudah kali ke-3 kickfest di adakan di Indonesia sejak tahun 2007. Diacara ini para pecinta band indie Indonesia dan dengan bangga kickfest menghadirkan clothing hasil karya anak Indonesia. Acar ini diadakan setiap tahun di seluruh Indonesia dan seperti biasa Bandung adalah tempat acara puncak Kickfest 2009.

Secara khusus, KICKFEST adalah sebuah acara expo yang diprakarsai oleh asosiasi komunitas Clothing dan Distro yang menamai dirinya Kreative Independent Clothing Kommunity (KICK) yang berpusat di kota Bandung. Anggota untuk di Bandung sendiri tercatat 26 clothing dan 2 distro, sementara perwakilan resmi tercatat di Yogyakarta. Sementara Jakarta, Lampung, Surabaya, Makasar sebagai kota representative karena kepengurusannya belum diresmikan.

Saat ini KICKFEST bagi anggota KICK sendiri dianggap sebagai event paling 'sakral' yang hanya boleh diadakan satu kali dalam satu tahun.

KICKFEST roadshow kali ini merupakan lanjutan dari acara yang sama pada tahun 2007 dimana diadakan di sebagian ruas jalan Diponegoro tepat di depan Gedung Sate yang terkenal sebagai simbol Propinsi Jawa Barat. Pada saat itu acara diikuti oleh 107 perserta yang berasal dari Jakarta, Yogyakarta, Solo, Lampung, Makasar, Malang, Semarang dan Medan. Tercatat selama tiga hari acara itu mampu menyedot lebih dari 350.000 pengunjung dan nilai omset yang berhasil diraup sekitar lebih dari 3 milyar rupiah.

Konsep dari KICKFEST sendiri adalah: News, Education, Experience dan Entertainment.

NEWS, acara ini harus dapat memberikan informasi mengenai sesuatu yang terbaru atau telah dapat dicapai oleh pesertanya. Dapat berupa inovasi maupun tehnik dalam produksi dan desain.

EDUCATION, dimaksud untuk memberikan edukasi pasar dalam menghadapi ancaman pembajakan disain dan juga mengenai clothing lokal yang sesungguhnya, yaitu yang tidak hanya menjual produk tapi juga memiliki attitude dan image dalam setiap bentuk produksinya. Karena saat ini banyak sekali bermunculan clothing-clothing baru yang jauh menyimpang dari citra image lokal clothing yang sesungguhnya.

EXPERIENCE, acara ini harus memberikan kesan atau pengalaman yang medalam bagi para pengunjungnya. Tidak hanya berbelanja, diharapkan pengunjung dapat menikmati suatu suguhan yang berbeda dengan acara expo biasanya.

ENTERTAINMENT, hiburan sebagai pelengkap acara ini menghadirkan semua bentuk hiburan yang berbau semangat independent. Dapat berupa penampilan band, pemutaran film indie, skateboard showcase, art showcase dan lain lain.

***

Pada awal roadshow di Yogyakarta ini setiap brand tidak main-main untuk membawa konsep toko mereka ke arena expo. Hal ini terlihat dari dilibatkannya lebih dari 100 orang pegawai yang dibawa oleh mereka, dengan lebih dari 20 ton barang yang diangkut ke venue. Dan untuk promosi acara ini pihak organiser dari Kaminari Production juga nampak serius dalam menanganinya. Lebih dari 10.000 flyer, 5000 poster, 30 buah spanduk dan 2 buah billboard disebar diseluruh penjuru kota Yogyakarta dan kota-kota satelit sekitarnya. Tidak ketinggalan 3 buah radio dan 1 buah stasiun tv lokal menjadi partner media elektronik. Sementara 5 buah majalah anak muda nasional dan 3 koran lokal menjadi partner media cetak.

Sumber: http://kickindonesia.multiply.com/
http://kickfest.com/




Senin, 29 Maret 2010

No Label Stuff (N.L.S) (Clothing)



CV. ANTIESTETIKA INDONESIA adalah perusahaan induk yang pada awalnya dimulai dengan mendirikan merk NO LABEL STUFF, yaitu sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri pakaian jadi dengan jangkauan konsumen lebih diutamakan bagi kalangan remaja dan dewasa aktif.

NO LABEL STUFF / N.L.S banyak terinspirasi oleh kehidupan jalanan di kota besar seperti ; musik keras, olah raga jalanan, pekerja kasar, dsb yang kemudian diadaptasikan ke bentuk pakaian jadi dan disesuaikan dengan trend fashion yang sedang berlangsung.

Hingga sekarang perusahaan ini telah berhasil memasarkan produknya di beberapa kota besar di Indonesia seperti; Jakarta, Bogor, Yogyakarta, Surabaya, Padang, Pekanbaru, Balikpapan, Denpasar, Ujung Pandang dan kota Bandung sebagai pusat penjualan utama.

Sampai saat ini kinerja perusahaan ini dioptimalkan pada beberapa cabang, berpusat pada induk perusahaan yaitu CV ANTIESTETIKA INDONESIA, memiliki beberapa cabang anak perusahaan seperti :

- NOLABELSTUFF : Merk dagang pria dan sebagai merk dagang utama

- NLS MAIDEN : Merk dagang untuk wanita

- NLS Jr. : Merk dagang untuk anak-anak

- AEWORX : Sebuah teamwork kreatif yang menjadi inti dari lahirnya dan pergerakan merk-merk diatas.

Dimana fungsi dan tujuan dibentuknya anak-anak perusahaan tersebut adalah untuk memperkuat konsep awal induk perusahaan yaitu konsep urban street style (sebuah gaya hidup di jalanan kota besar yang berkesan non-formal dan up to date, yang tidak akan habis ditelan waktu).

OFFICE

C.V. Antiestetika Indonesia
Merk Dagang : No Label Stuff (N.L.S)
Ph/fax : +62 22 420 44 55 / (CDMA) +62 22 7053 4455
E-mail : nolabelstuff@yahoo.com


STORE

Jl. Trunojoyo No. 8 Bandung 40115
Jawa Barat, Indonesia
Ph/fax : +62 22 420 44 55 / (CDMA) +62 22 7053 4455
E-mail Order : order@nolabelstuff.com

Sumber: http://www.distrobandung.com/
http://www.nolabelstuff.com/

Airplane Systm (Clothing)



Kreatifitas anak muda di Bandung memang gak ada matinya. Meski diserbu dengan pembangunan pusat perbelanjaan besar, distro yang mulai muncul pada tahun 90-an tetap eksis hingga kini. Salah satunya distro Airplane, di Jalan Aceh No 44.

Dimotori oleh tiga sahabat yang senang berkreasi sendiri membuat T’shirt dan celana, Fiki Chikara Satari, Helvi, dan Colay, akhirnya mengusung merek Airplane. Dengan modal awal Rp 300 ribu, mereka pasarkan kaos buatan sendiri itu di lingkungan terbatas.

“Awalnya hanya mulut ke mulut antar teman. Produksi kami pun hanya terbatas, paling beberapa stel kaos. Eh ternyata banyak yang suka, akhirnya kami titipin ke distro-distro milik teman,” ujar Fiki yang memulai usahanya 10 tahun yang lalu.

Melihat animo yang bagus, akhirnya pada 2001 atau tiga tahun setelah usahanya dirintis, Fiki dan dua sahabatnya menyewa sebuah tempat di Jalan Aceh 44. “Sewa awalnya dulu hanya Rp 6 juta per tahun, sekarang sudah Rp 60 juta per tahun,” ungkapnya.

Tidak hanya memproduksi T’shirt dan celana, jaket, sweater, topi, dan sepatu pun mulai dirambah Airplane. “Tapi ingat, kami ini jualan merek bukan hanya fashion. Merek bagi distro adalah identitas,” ujar Fiki.

Menurut Fiki, bertahan selama 10 tahun memang bukan hal yang mudah di tengah-tengah persaingan antara factory outlet dan mall-mall di Bandung. “Distro sendiri jumlahnya sudah mencapai 300-an. Biar merek kami tetap bisa eksis, kami harus melakukan inovasi terus,” ujarnya. Kini Airplane telah memasok ke 94 distro yang ada di Indonesia.

Sejak 2007, kata dia, Airplane memakai konsep season. Setiap empat bulan satu kali, dibuat tema khusus. “Untuk season awal tahun ini adalah ’seduce you good’. Kami ingin menjadikan awal tahun ini sangat menggoda, tentunya dalam konotasi yang baik,” tuturnya.

Tetap dengan mengusung model yang simpel, T’shirt, celana denim, hingga jaket semua dibuat sedikit ‘menggoda’. Menurut Direktur Kreatif Airplane Gino Herriansyah, warna yang mendominasi pada season kali ini adalah biru, merah, dan kuning. “Dengan adanya tema, memudahkan kami pada saat promosi,” cetus Gino.

Fiki menambahkan salah satu cara agar Airplane tetap eksis adalah menjadi sponsor band-band lokal, seperti the Sigit.”Kami menjadi sponsor bagi The Sigit yang akan konser di Texas pada Maret 2008 nanti,” ujar Fiki.

Bahkan untuk pemasaran produk Airplane, Fiki membuat terobosan baru dengan sistem pembelian online melalui website. “Yang pesan dari luar negeri banyak, seperti dari Finlandia, Australia, Filipina, Belanda dan juga Amerika,” ujarnya bangga.

Kini jumlah karyawan Airplane sudah mencapai 54 orang. Dengan keseriusan dan inovasi yang terus diasah, Fiki optimistis usahanya akan tetap bertahan di tengah persaingan usaha yang sudah tidak ramah lagi.

OFFICE

Jl. Titiran No. 7 Bandung 40133
Jawa Barat, Indonesia
Ph/fax : +6222 2531340
E-mail : contact@airplanesystm.com

SPACE SHOP

Jl. Aceh No.4 Bandung 40119
Jawa Barat, Indonesia
Ph : +6222 4210092
E-mail : spaceshop@airplanesystm.com

AB1 (Air Bus One)

Jl. Sultan Agung Bandung
Jawa Barat Indonesia
Ph : +6222 91812093
E-mail : ab1@airplanesystm.com

Sumber: http://www.distrobandung.com/
http://www.airplanesystm.com/



Sabtu, 27 Maret 2010

SKATERS forhardcoreriders (Clothing)



Skaters di dirikan pada tahun 1992 dengan busines core berupa bags, cloting, accescories yang di butuhkan oleh anak-anak muda untuk kegiatan olah raga skateboard dengan di padukan oleh gaya berpakaian 'street wear look'. Pada awalnya didirikan SKATERS forhardcoreriders , masih merupakan home industri. Namun demikian, seiring berjalannya waktu dan peningkatan kualitas seluruh komponen industri, seperti informasi management, sumber daya manusia, serta di dukung oleh Information Tecknology, maka pada saat ini SKATERS forhardcoreriders terus berusaha untuk menjadikan produknya, sebagai market leader di bidang 'main street wear'.

OFFICE

Babakan Ciamis 37 Bandung
Ph: +622 4205087

STORE

Jl. Merdeka No. 56, Bandung Indah Plaza (BIP) Lt1
Bandung
PH: 0224218210

SHOP

Jl. Cihampelas #155 A Bandung

Jl. Ciguriang # 10 Bandung

Jl. Sumatra # 31 ( New 18 Park ) Bandung

Jl. Kopo Sayati #161 A Bandung

Jl. Lembang #232 Bandung

Jl. Bayangkara #308 Ciwidey

Jl. RE. Martadinata #12 Sukabumi

Sumber: http://skaters.co.id/







BLACK ID (Clothing)



Black Id lahir pada tanggal 9 Pebruari 2004, dari kebutuhan akan sebuah identitas. Identitas yang dibutuhkan sebagai penyampai pesan dari komunitas musik di Bandung, yang mulai menunjukkan eksistensinya sebagai salah-satu kekuatan musik di Indonesia.

Pada masa itu Black Id tampil beda dengan membawa konsep fashion yang mengangkat gaya-gaya fashion asli Indonesia yang dikemas dalam gaya-gaya STREET-W EAR. Konsep baru Black Id tersebut ternyata diterima positif oleh pasar yang akhirnya berkembang menjadi jalinan yang lebih luas dan intens dengan melibatkan pihak-pihak media. Moment itu kemudian meredefinisi bagaimana sebuah bisnis fashion lokal atau distro dijalankan. Yaitu dengan menciptakan sebuah network atau jaringan kemitraan yang saling menguntungkan. Fungsi network sebenarnya adalah untuk menjembatani kebutuhan pasar dan tentunya untuk menyebarkan konsep fashion yang membawa pesan-pesan Indonesia.

SHOP
Jl. Belitung No. 3, Bandung
Jl. Buah Batu No. 269, Bandung
Jl. Cigurian No. 7 (near Mc Donalds King Plaza II Kepatihan)
Jl. Riau No. 18, Bandung
Jawa Barat, Indonesia
Ph/Fax: 0813 2020 6060 / 022 4262898

Sumber: http://blackidclothing.com/





Jumat, 26 Maret 2010

Alamat-Alamat Distro and Clothing di Indonesia


10DENCIES
JL. Bintaro Utama I J3 No.11 Sektor I Bintaro Jaya Jakarta Selatan
Contact : 021 7358204 Fax. 021 7358204
email : tendenciesmail@yahoo.com

ANTI BEAUTY
Jl. Mutiara IV No. 16 Buahbatu Bandung
Contact : 022 70771361 Fax. 022 7307784
email : info@anti-beauty.com

AIRPLANE SYSTM
Jl. Aceh No. 44, Bandung
Contact : 022 4210092 Fax. 022 4210092

ARENA STORE
Jl.Dago NO 207, Bandung
Contact : 022 2506444 FAX 022 2500864
email :arena_experience@hotmail.com

ATOMIC
Jl. Pandan No. 8 Surabaya
Contact : Yasin a.k.a Kancil 081332633124 ato starone 031-60763074

BABO
Jakarta Jakarta
Contact : +62 81 384808480
email : babohood@yahoo.com

BADGER INV
Jl. Mutiara IV No. 16, Buahbatu, Bandung
Contact : 022 70771361 Fax. 022 7307784
email : info@badgerinvaders.com

BADSICKNAL
Jl. Imam Bonjol Gg. Tanjung Sari kanan No. 28 Pontianak 78124
Contact : 081352099997 an Ulla Asri

BILLIST WARDROBE
Jl. Kh Wahid Hasyim III/9a (Depan SMUN 2)
Sumenep Madura

BLACK ID
Jl. Belitung No. 3, Bandung
Jl. Buah Batu No. 269, Bandung
Jl. Cigurian No. 7 (near Mc Donalds King Plaza II Kepatihan)
Jl. Riau No. 18, Bandung
Jawa Barat Indonesia
Contact : 0813 2020 6060, 022 4262898

BLANKWEAR
Jl. A.H. Nasution Km 9 No. 1, Ujung Berung, Bandung
Contact : 0227805457
email : info@blank-wear.com

BLAZE DISTRO
Jl. Aceh No. 40 Bandung
Jl. Tirtayasa No.6 Bandung
Contact : 022 91687739

BLOOP
Jl. Tebet Utara Dalam No. 22 Jakarta Selatan
Contact : +62 21 8291479
Email : bloopbange2@hotmail.com

CANNIZARO
Jl. Tole Iskandar No. 2 RT 06/01, Depok 16411
Contact : 085219929841

CELTIC
Jl. Setiabudhi No. 56 Bandung
Contact : 0222038668 Fax. 0222038668
Email : info@monikceltic.com

CHAPTER 9
Jl. Kh Noer Alie #35-37 Komplek Ruko LIA Kampung Dua Kalimalang Bekasi
Contact : 021 88850928 Fax. 021 88850928
Email : info@Chapter 9.co.id

COSMIC
Jl. Aceh No.105 Bandung
Contact : 0224237458 Fax. 0224237458
Email : cosmicclothes@yahoo.com

DIXXIE SHPHOUSE
Jl. Putrichandramidi(podomoro) No. 33AB
Pontianak, Kalimantan Barat 78116

D’LOOPS
Jl. Riau 110 pav , Bandung
Contact : 022 4261642
Jl. Geusanulun, No. 1 Sultan Agung, Bandung
Contact : 022 4206480
Office : Jl. H. Mesri No. 54A/6B, Bandung
Contact : 022 70840311
email : luv_dloops@hotmail.com

EAT 347
Jl. Trunojoyo No.4, Bandung Jawa Barat
Contact : 022 4200515

ELEVATE WEAR CO.
Jl. A. Yani No. 38 Padang.
Contact : 0751-20908

EMBRYO
Jl. Hasanuddin No. 1 Denpasar
Contact : 081337240008

ENDORSE
Jl. Tebet Utara Dalam No. 5 Jakarta Selatan
Contac t : +62 21 837 92616

EQUALNINE
Jl. Jendral Sudirman No. 44b Enggal – Bandar Lampung
Jl. Hoscokro Aminoto No. 3/116 Rawalaut – Bandar Lampung

FIREBOLT
Cihampelas Walk , Young Street SG-28, Bandung
Contact : 022 2061136
Jl. Prabudimuntur No. 4 Dago, Bandung
Jl. Benda Raya No. 14 C, Kemang, Jakarta Selatan
Contact : 021 78846520
Jl. Kaliurang, Km. 5,2, Yogyakarta
Jl. Wilis, No. 25 Malang
Website : www.frblt.com

FLASHY
Jl. Dipatiukur No. 1, Bandung
Contact : 022 2508393
Email : flu@bdg.centrin.net
Website : www.flashyliquid.com

FREEFLOW
Jl. Bangka Raya No.35c Jakarta Selatan 12720
Contact : 085691799950

FUKKABILITY
Jl. Hasanudin Gg.III (Utara Perempatan Purwosari), Purwosari, Solo.
Contact: aam (08562828294)
Email : aamsaja@yahoo.com

GAZE
Jl. Bandung
Contact : 022 Fax. 022
Email : gazeclothco@yahoo.com

GEEEIGHT
Jl. Progo No. 3 Bandung
Contact: 022 4267686 Fax. 022 4267686
email : info@geeeight.com

HORNY
Jl. Cibeunying Kolot No.84 Cigadung selatan BANDUNG
Contact : 022 2517258 Fax. 022 2517258

INFAMOUS
Jl. Aceh No. 105 Bandung
Contact : 0224237458 Fax. 0224237458
email : cosmicclothes@yahoo.com

INVICTUS
official store #1
Jl. Pagergunung No. 13 Dago, Bandung
Contact : 022-2504407
official store #2
Jl. Trunojoyo No. 6 Bandung
Contact : 022-4220376

INVT
Jl.Pisang Mas I no9. Harapan Baru, Bekasi
Contact : 085697585904 / 021-91390182

JAIL BODY INSIDE
Jl. Batununggal Indah Raya I, No. 10, Bandung
Contact : 022 7502019 (hunting) 91360699

JEJAK SHOP
Jl. Dipatiukur No. 66 F Bandung
Contact : 022-2503754 Fax. 022-2503754
email : info@jejakshop.com

MAILBOX
Jl. Gejayan 55, Paviliun Yogyakarta
Contact : 081227446680

MIGHTY INDUSTRIES
18th Park
Jl. Riau 18 Bandung

MONDAY
Nusa Indah Barat Blok C.ext 2/35
Cengkareng, Jakarta Barat 11750
Contact : 021 541 5427
Email : mondayclinic@yahoo.com

MONIK
Jl. Setiabudhi No. 56 Bandung 40141
Contact : 0222038668 Fax. 0222038668
Email : info@monikceltic.com

MOLY
Jl. Raya Seturan No. 367b Puluh Dadi, Sleman, Yogyakarta
Contact : .02747801355
Email : Moly_jogja@yahoo.co.id

MOOSE
Jl. Bumi No. 17 Kebayoran Baru Jakarta Selatan
Contact : 021 7395302 Fax. 021 5254659
Email : moosecloth@yahoo.com

MORUKA
Jl. Merak No.4 Bandung
Contact : 022 91888538 Fax. 022 91888538
email : contact@moruka.com

NARCISM
Jl. Barito 1 no.7
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12130
Contact : 0811 170 075

NO LABEL STUFF
Jl. Trunojoyo No. 8, Bandung
Contact : 022 4204455
email : nolabelstuff@yahoo.com

OINK THE PIGGEST COMPANY
Jl. Banda No. 23, Bandung
Contact : 022 2515890
email : oinkco@yahoo.com

ORDER CLOTHING
Jl. Wartawan II No. 4 Bandung
Contact : 022-7321712 Fax. 022-7321712
email : info@orderockers.com

ORO
Jl. Trunojoyo 23 Bandung
Contact : 022 70156365 Fax. 022 70156365

OUVAL RESEARCH
Jl. Buah Batu No.64 Bandung
Jl. Tebet Utara No. 26, Jakarta Selatan
Contact : 022 7306697 Fax. 022 7306697
email : info@ouvalresearch
website : www.ouvalresearch.com

PLANETMUSHROOM
Jl.Delima Raya – Perumnas Klender
Jakarta Timur

PREMIUM NATION
Jl. Pulau Asem Raya No. 8, Rawamangun, Jaktim 13220
Contact : 021-4895987 / 08128110191

REDDOOR
Jl. Gejayan 7A, Mrican, Komplek Yuyu Kangkang, Yogyakarta
Contact : 081328184870

ROWN SHOP
Jalan Adisucipto No. 1, Manahan,
Surakarta, Indonesia
Contact : +6285647376960 / 62271726903
Website : www.rowndivision.com

SCREAMOUS
Jl. Pasang No. 37 Bandung
Contact : 022-911 62 277 Fax. 022-727 1951
email : info@screamous.com

SEEPHYLLIZ INFECTION ROOM
Jl. Sultan Agung No.7 Bandung
Contact : +628562958513
Website : www.seephylliz478.com

SILVERSIDE
Comp. Pasir Pogor Indah
Jl. Pasir Suci Barat No. 16, Ciwastra Buah-Batu, Bandung
Contact : 022 756874 / 081384100741
Email : www.silverside_686@yahoo.com

SIPPIRILLI MONZSTER STORE
Jl. Cendrawasih No.31, Jogjakarta
Contact : +628562958513

SIZE BLOCUS
Jl. Sultan Hasanuddin 114, Tipulu, Kendari
Sulawesi Tenggara
Email : size_distro@yahoo.com
Contact : 0811404737

SKATERS
Bandung Indah Plaza (BIP) Lt1 Jl. Merdeka No. 56 Bandung
Contact : 0224218210

SLACKERS
Jl. Ring Road Utara, Maguwoharjo #08, Yogyakarta
Contact : 0274 4332222
Website : www.slackerscompany.com

STARCROSS
Jl. Cendrawsih No.27 A, Demangan, Yogyakarta
Contact : 081931708049 / 0274-7002650
Website : www.starcrosswardrobe.com

STAR SEEKER
Jl. Nilem II, No. 6 Buah Batu, Bandung
Contact : 022 7306525 , 08122055626 , 022 91196626
Fax : 022 7303268
email : artblockmail@yahoo.com

STRUGGLE
Jl. Kotabaru Raya No. 34 Bandung
Contact: 022 5229990 Fax. 022 5229990
email : Strugglesyndicate@yahoo.com
S.U.S ( SQUAD URBAN STREETWEAR )
Jln.jembatan merah no.103 prayan kulon,gejayan.jogjakarta
Contact: 085228106346

SUICIDE – ANTHEM
Jl. Sedap Malam No:15A
Galaxy – Bekasi
Jawa Barat
Email : suicide_atm@yahoo.com

VEYNOM
Jl. Trisatya No. 6 jembatan 2 Bumi Bekasi Baru (depan BBC)
Rawalumbu – Bekasi Timur

VOCUZ EVOLUTE
Jln. Geusan Ulun No. 1 Sultan Agung, Bandung
Contact : 08122165130

WADEZIG!
Jl. Hassanudin No. 10, Bandung
Contact : 0222506145 Fax. 0222506145
email : wadezig@proyekimagi.com

WANBAIWAN
Alfamart Kemanggisan III, Kemanggisan No. 58, Jakarta Barat
Contact : +62 812 966 7950
email : wanbaiwanwildwest@yahoo.com

ZIGZAG PROJECT
Jl. Pejuang Raya Blok H No. 45 Harapan Indah Bekasi
Contact : +62 21 30848845

Sumber: http://cannizaro.wordpress.com/

ANONIM WARDROBE (Distro)



Bermula dari hobi menonton film dan mendengarkan musik, maka pada September’99 dibukalah sejenis toko yang menjual merchandise film import , seperti poster dan t-shirt dari grup band / film yang sedang terkenal saat itu. Sebagai strategi untuk mengisi toko, ANONIM WARDROBE menemukan beberapa pioneer clothing company lokal untuk bergabung , serta menjual juga kaset-kaset dan tshirt-tshirt dari beberapa grup musik underground Bandung

Tidak jelas siapa yang memulai, akhirnya ANONIM disebut orang sebagai distro, yang merupakan singkatan dari distribution store. Distro tidak sama dengan FO, karena distro lebih unggul dalam segi eksklusivitas dan kreativitas. Mass product dan penjualan produk sisa eksport merek terkenal dari luar negeri yang menjadi andalan FO sama sekali ditabukan di distro. Distro dengan clothing juga tidak sama, karena distro adalah merupakan toko yang menjual produk dari hasil clothing , sedangkan clothing adalah usaha yang mengeluarkan produk-produk dengan desain kreatif seperti tshirt, jaket, tas, ataupun berbagai macam asesoris seperti dompet, topi, stiker, sandal ,pin dll. Singkatnya, distro adalah si toko, sedangkan clothing adalah di produsen.

Dengan mengusung tagline “I’m Not a Fashion Victim”, ANONIM berusaha membuat anak muda untuk menjadi leader, not follower, khususnya dalam cara berbusana dan gaya hidup, jangan mau menjadi korban keseragaman , dan menjadi tidak takut jika berbeda dengan orang lain.

Dengan didukung oleh hampir 100 merek clothing top dari Bandung dan Jakarta dan ratusan produk merchandise band seperti tshirt, topi, kaset atau cd dari band indie , majalah, buku, vcd/dvd ANONIM menyediakan berbagai macam produk dengan patokan harga mulai dari Rp 1.500,00 hingga Rp 300.000,00. Oleh karena itu di ANONIM selalu ada ratusan barang baru di setiap minggunya

Sebagai salah satu distro terlengkap yang ada di Indonesia khususnya kota Bandung, ANONIM sejak tahun 2007 pindah ke lokasi yang lebih besar (150 m2) dan strategis, yaitu di jalan Teuku Umar 9 Dago (Rumah Sakit Borromeus-Unpad) , Bandung dengan jam operasional antara 10.00 – 20.00.

STORE
Jl. Teuku Umar 9 Dago (RS.Borromeus-Unpad),
Bandung , Indonesia
Ph: +62 022 2504340, 2501332








RIOTIC, dari Studio Musik ke Distro




Bandung - Sejarah berdirinya distro atau industri clothing di Bandung cikal bakalnya berasal dari industri musik, khususnya musik indie. Begitupun dengan distro yang bisa dikatakan senior ini, Riotic, didirikan di tahun 1996. Awalnya adalah salah satu recording company di kota Bandung.

Menurut Pemilik Riotic, Dadan Ruskandar yang biasa disebut Ketu (dari kata ketua), terbentuknya Riotic awalnya dari kumpulan anak-anak muda Bandung yang biasa bermusik dengan genre punk rock yang tergabung dalam Hijau Enterprise. Keinginan untuk mendokumentasikan musik itulah yang memicu didirikannya industri rekaman label Indie dengan nama Riotic.

Riotic sendiri berasal dari kata riot yang diartikan Dadan sebagai kondisi cheos yang dilihat dari segi musik. "Tetapi bukan orangnya yang cheos," ungkap Dadan. Band punk rock pertama yang dibuatkan mini albumnya oleh Riotic Record adalah Turttle Jr. Kemudian Riotic Record membuat album Bandung Burning yaitu 17 kompilasi album punk rock yang kasetnya laku keras dan masih dicari sampai sekarang. Terakhir band yang adalah Authority yang salah satu anggotanya dalah anak almarhum seniman Harry Rusli.

Tak hanya band-band lokal yang dirilis Riotic Record tapi juga band-band indie dari luar negeri. Misalnya dari Belanda, Amerika, dan rata-rata negara di Eropa.

Banyak dari para penggemar musik punk rock tersebut menanyakan merchandise band, maka pada tahun 97 didirikanlah distro Riotic. Menurut Dadan, pada saat itu distro yang ada di kota Bandung baru Riotic dan Harder. Hampir 70 persen dari produk-produk Riotic adalah merchandise band-band musik indie, dimana mayoritas merupakan band lokal Bandung.

Sehingga image sebagai distro yang menjual merchandise band lokal indie seluruh Indonesia melekat di Riotic. Bahkan, salah satu band ternama tanah air, Peterpan menitipkan merchandisenya di tempat ini.

Tak hanya t'shirt juga CD, kaset, topi, pin dan lain-lain. Harga t'shirt berada di kisaran Rp 55-85 ribu, kaset Rp 12-18 ribu, topi Rp 60-65 ribu, pin Rp 5 ribu- Rp 7500. Riotic memproduksi cukup sedikit dalam memproduksi. Dalam satu kali produksi satu design hanya 30 pieces. Itupun tidak ada pengulangan produksi di kemudian hari.

Lokasi Riotic berpindah-pindah dari mulai Cijerah, Cicadas belakang BIP, Dago sampai akhirnya ditahun 2007 memilih Jl Sumbawa No 61. Dalam satu kawasan terdiri atas distro, tempat recording dan latihan serta kantin. Beberapa tempat duduk di sediakan di bagian depan. Setiap harinya Riotic ramai dikunjungi. Entah itu oleh anak band yang latihan ataupun sekedar kongkow hingga yang belanja. Terlebih ketika para pengunjung tahu kalau band-band ternama Bandung seperti Burgerkill, Jeruji, Pure Saturday melakukan latihannya di tempat ini.


STORE
Jl. Sumbawa 61,
Bandung, Indonesia, 40113
Ph: 022 70810550

Sumber: http://bandung.detik.com/
http://www.rioticdistro.blogspot.com/

Sejarah Distro di Bandung




Di Kota Bandung – bagi sebagian masyarakatnya – keberadaan berbagai t-shirt seperti yang diperbincangkan di atas bisa jadi merupakan satu hal yang lazim. Demikian juga dengan keberadaan geng motor tua, sepeda bmx, penggemar musik hip-hop, musik elektronik, break dance, hardcore, grindcore, sampai dengan komunitas penggemar musik punk yang tersebar di beberapa tempat di sekitar pojokan kota. Dengan penampilan yang spesifik, beberapa kelompok ini menyebar di sekitar kampus-kampus, pojok-pojok jalan, diskotik, bar, daerah pertokoan, kamar kost, rumah kontrakan, shooping mall, dan lain sebagainya. Di malam Minggu, beberapa komunitas ini biasanya terlihat di sekitar Jalan Dago, Gasibu, BIP, Cihampelas, sampai Jalan Braga. Di Bandung, kebanyakan orang tampaknya memang masih punya banyak waktu luang untuk memikirkan beberapa hal yang mendetail dalam kehidupan sehari-hari mereka. Beberapa hal detail yang kemudian bermuara pada beragam kecendrungan akan gaya hidup, perilaku, dan berbagai aliran pemikiran.

Dadan Ketu, sebutlah demikian. Terlahir di Kota Bandung . Pemilik nama ini bukanlah figur yang asing lagi bagi mereka yang akrab dengan komunitas underground Kota Bandung di era pertengahan ‘90-an. Bersama 8 orang temannya, pada sekitar tahun ‘96 ia berinisiatif untuk membentuk sebuah kolektif yang kini dikenal dengan nama Riotic. Melalui ketertarikan akan satu model ideologi yang sama, komunitas ini kemudian mulai memproduksi musik rilisan mereka sendiri, yang kemudian berkembang menjadi sebuah toko kecil yang menjual segala macam pernak-pernik dari mulai kaset, merchandise band, t-shirt dan lain sebagainya.

Lain lagi dengan Dede, yang bersama keempat temannya mendirikan sebuah distro(2) yang bernama Anonim pada tahun 1999. Terutama karena ketertarikan pada musik dan film, kelompok ini kemudian mulai menjual t-shirt yang dipesan secara online melalui internet. Kini selain menjual barang-barang import, mereka juga menjual kaset-kaset underground dan produk-produk dari label clothing lokal, yang konon kabarnya mencapai sekitar 100 label clothing yang muncul bergantian seperti cendawan di musim hujan. Menurutnya, penjualan produk lokal meningkat jumlahnya setelah terjadi krisis ekonomi pada tahun 1996, yang menyebabkan harga barang impor meningkat dan semakin sulit didapat.

Riotic dan Anonim, dua nama ini adalah sedikit dari deretan nama-nama seperti, Harder, Riotic, Monik Clothing, 347 Boardrider & Co., No Label Stuff, Airplane Apparel System, Ouval Research, dan lain sebagainya. Sejak pertengahan ‘90-an, di Kota Bandung memang bermunculan beberapa komunitas yang menjadi produsen sekaligus pelanggan tetap beberapa toko kecil - sebutlah distro - yang menjual barang-barang yang tidak ditemui di kebanyakan toko, shooping mall, dan factory outlet yang kini juga tengah menjamur di Kota Bandung. Berbekal modal seadanya, ditambah dengan hubungan pertemanan dan sedikit kemampuan untuk membuat dan memasarkan produk sendiri, kemunculan toko-toko semacam ini kemudian tidak hanya menandai perkembangan scene anak muda di Kota Bandung, tetapi juga kota-kota lain semisal Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dsb.

Reverse: Markas Kecil di Sukasenang
Adalah Reverse, sebuah studio musik di daerah Sukasenang yang kemudian dapat dikatakan sebagai cikal bakal yang penting bagi perkembangan komunitas anak muda di Kota Bandung pada awal era ‘90-an. Di awal kemunculannya pada sekitar tahun ‘94, semula Richard, Helvi, dan Dxxxt (3 orang pendiri pertama dari Reverse), hanya memasarkan produk-produk spesifik yang terutama diminati oleh komunitas penggemar musik rock dan skateboard. Dapat dikatakan, komunitas ini kemudian merupakan simpul pertama bagi perkembangan komunitas ataupun kelompok subkultur anak muda pada saat itu. Ketika semakin berkembang, Reverse kemudian menjadi sebuah distro yang mulai menjual CD, kaset, poster, artwork, asesoris, termasuk barang-barang impor maupun barang buatan lokal lainnya.

Kemudian bermunculan sederet komunitas baru yang lebih spesifik lagi. Dari yang semula hanya didatangi oleh penggemar musik rock dan komunitas skateboard, Reverse mulai didatangi oleh beberapa kelompok yang berasal dari scene yang lain. Dari yang meminati musik pop, metal, punk, hardcore, sampai pada kelompok skater, bmx, surf dan lain sebagainya. Belakangan, nama Reverse bermutasi menjadi Reverse Clothing Company, yang sekarang ini dikelola oleh Dxxxt. Menurut Richard, selain karena musik rock dan skateboard, saat itu kemunculan beragam komunitas semacam ini juga didorong oleh keberadaan beberapa film seperti The Warrior (Walter Hill/1979), BMX Bandit (Brian Trenchard-Smith/1983),Thrashin (David Winters/1986), Gleaming The Cube (Graeme Clifford/1989), dan film-film sejenis yang bercerita mengenai berbagai macam komunitas anak muda di Barat (Eropa Barat & Amerika).(3)

“Dulu gua kalo mau nyari posternya Frank Zappa nggak mungkin dapet di tempat lain, pasti gua nyarinya ke Reverse!”, ujar Edi Khemod yang merupakan drummer band cadas bernama Seringai, sekaligus seorang penulis, produser rumah produksi Cerahati dan juga salah seorang anggota dari Biosampler; sebuah kelompok seniman multimedia yang sering muncul dalam aktifitas artistik di club scene kota Bandung dan Jakarta. Kebutuhan yang spesifik semacam inilah yang kemudian tertularkan pada beberapa komunitas dan distro-distro pada generasi sesudahnya. Kembali menurut Richard, menurutnya mereka yang datang ke Reverse itu kebanyakan mencari barang yang tidak terdapat di toko, shooping mall, atau departemen store. Hal ini juga diakui oleh Dadan dan Dede. Menurut mereka rata-rata yang datang ke distro itu orang-orang yang punya kebutuhan spesifik yang berbeda dengan kebutuhan orang kebanyakan. “Karena itu mereka mencari sesuatu yang lain, yang sulit ditemukan di wilayah-wilayah yang lebih mapan”, ujar Richard dalam sebuah wawancara. Untuk saya sendiri hal semacam ini tentu saja dapat dikatakan wajar. Kebanyakan anak muda memang punya tabiat untuk selalu mencari pengalaman yang baru dan berbeda.

Tampaknya dari kondisi yang spesifik semacam inilah, dinamika perkembangan industri musik, termasuk perkembangan fashion anak muda di Bandung selalu menemui banyak pembaharuan. Dari mulai jaman celana jeans di Jalan Cihampelas, tas ransel Jayagiri, jaman kaos oblong C-59, clothing lokal, band-band underground, distro, dan seterusnya sampai sekarang. “Perjumpaan yang terus menerus dengan hal/orang/barang yang sama, kadang-kadang menimbulkan perasaan jenuh/bosan/muak; bila tak tertahankan lagi, orang ingin keluar/melepaskan diri dari situasi itu: ingin tampil beda.” Demikian urai Yuswadi Saliya, seorang arsitek yang tinggal di Bandung ketika membalas pertanyaan dalam email saya untuk kasus ini. Saya pikir demikianlah adanya, Kota Bandung memang memiliki segudang rutin yang memaksa setiap warganya untuk terus bergerak mencari sesuatu yang baru dan berbeda. Kini beragam komunitas anak muda di kota Bandung terus bermunculan. Tidak lagi di Sukasenang, tetapi juga menyebar ke seluruh pelosok kota, mulai di bilangan Jalan Setiabudi (Monik/Ffwd Records), Citarum (347/EAT – Room No. 1), Moch. Ramdan (IF), Balai Kota (Barudak Balkot), Sultan Agung (Omuniuum), Saninten (Cerahati/Biosampler), Kyai Gede Utama (Common Room/ tobucil/Bandung Center for New Media Arts dan Jendela Ide), sampai ke daerah Ujung Berung (Ujung Berung Rebel/Homeless Crew), dsb.

“Karena Bandung kotanya kecil, jadi mau ngapa-ngapain gampang…lagian orang-orangnya juga kekeluargaan, cair banget, baturlah, semua dianggap sama.” Ujar Dede pada suatu kesempatan. Hal ini juga kembali disepakati oleh Dadan Ketu. Menurutnya, mereka yang berusaha di bidang clothing lokal tidak menemui kesulitan yang berarti ketika mereka harus berproduksi. “Mau cari bahan gampang pisan, tinggal ke Jalan Otista, Tamim, Cigondewah, Cimahi, Majalaya, terus tukang nyablon juga di sini mah banyak pisan, jadi nggak susah.”, jelasnya.

Paska 1990: Desa Global, GMR, dan MTV
Tidak hanya di era ‘90-an – apabila kita lihat beberapa catatan di atas – sejak awal kemunculannya harus diakui Kota Bandung memang banyak menerima pengaruh dari Barat (Eropa Barat & Amerika). Namun, pada periode berikutnya tidak dapat dipungkiri kalau ada pengaruh lain yang tak kalah penting bagi perkembangan scene anak muda di Bandung, yaitu media. Sebagai contoh di bidang musik misalnya, melalui tangan dingin seorang Samuel Marudut (alm.), pada tahun ‘92-an sebuah radio yang bernama GMR menjadi satu-satunya radio di Indonesia yang membuka diri untuk memutarkan rekaman demo dari band-band baru yang ada di kota ini, sehingga ikut memicu pertumbuhan scene musik yang ada pada saat itu. Selain memicu pertumbuhan komunitas musik di Kota Bandung, radio ini juga ikut mempopulerkan keberadaan beberapa band yang berasal dari luar kota Bandung.

Selain itu, perkembangan di bidang teknologi media & informasi juga secara radikal mampu mendorong perkembangan budaya kota di Bandung kearah yang lebih jauh. Salah satu contohnya adalah perkembangan teknologi rekaman yang memungkinkan band-band baru merekam musik mereka dengan menggunakan komputer, sehingga tidak lagi harus bersandar pada industri mainstream & produk impor. Saat ini, industri musik di Bandung sudah biasa diproduksi di studio-studio kecil, rumah, maupun di kamar kost. Selain itu, perkembangan di bidang teknologi informasi juga memudahkan setiap komunitas yang ada untuk berhubungan dan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Melalui jaringan internet yang sudah berkembang sejak tahun 1995-an, Kota Bandung saat ini sudah menjadi bagian dari jaringan virtual yang semakin membukakan pintu menuju jaringan global.

Kehadiran MTV pun setidaknya memiliki peran yang tidak sedikit, karena melalui stasiun inilah beberapa band underground Bandung mendapat kesempatan untuk didengar oleh publik secara lebih luas. Selain itu, para presenter MTV siaran nasional pun tidak segan-segan untuk memakai produk-produk dari clothing lokal yang berasal dari Kota Bandung, sehingga produk mereka menjadi semakin populer. Dampaknya tentu saja tidak kecil. Selama beberapa tahun terakhir warga Kota Bandung mungkin sudah mulai terbiasa dengan jalan-jalan yang macet pada setiap akhir minggu. Selain menyerbu factory outlet, para pengunjung yang datang ke Kota Bandung pun biasanya ikut berbondong-bondong mendatangi distro-distro yang ada, sehingga memicu pola pertumbuhan yang penting, terutama dari segi ekonomi.

Melalui keberadaan beberapa komunitas anak muda yang senantiasa menyediakan barang-barang yang mereka produksi secara mandiri, setidaknya kita dapat melihat berbagai kumpulan tanda yang baru yang berbeda dengan masa sebelumnya. Apabila pada masa sebelumnya komunitas anak muda di Bandung sangat bergantung pada industri mapan dan berbagai produk impor, saat ini beberapa komunitas yang ada sudah mampu memproduksi kebutuhan mereka secara independen. Dalam beberapa kesempatan, wacana budaya perlawanan (counter culture) pun kerap mewarnai keberadaan komunitas ini. Diantara beberapa perilaku komunitas anak muda yang disebutkan tadi, setidaknya kita bisa melihat ini sebagai sebuah sikap politik yang membangun bentukan watak yang khas. Bagi beberapa komunitas anak muda di Bandung, musik dan fashion saat ini bukan lagi hanya sekedar trend. Musik dan fashion dapat juga dilihat sebagai bentuk ekpresi kemandirian politik yang mampu mengakomodasi berbagai aspirasi personal yang mereka miliki. Untuk itu, saya rasa dalam konteks perbincangan mengenai perkembangan kelompok subkultur di kota Bandung, sebetulnya musik dan fashion juga dapat dilihat sebagai instrumen yang mampu menjelaskan berbagai pandangan dan perbedaan yang menyertai keberadaan komunitas-komunitas ini.

Pertumbuhan yang pesat yang sangat ditunjang oleh keberadaan beberapa media seperti stasiun TV, radio, majalah, fanzines, dan terutama internet, terus saja mendorong perkembangan komunitas anak muda di Bandung. Selain semakin memperjelas keberadaan beberapa komunitas yang ada, kemunculan berbagai macam media juga menambah perluasan jaringan sampai ke kota-kota lain di luar Bandung, malah sampai ke luar negeri. Ketika mulai merilis kaset dibawah label 40124 pada pertengahan ’90-an, Richard mengaku pernah mendapatkan pesanan kaset rilisannya dari seorang penggemar musik-musik underground dari Jepang, yang kebanyakan memesan melalui internet. Lewat label 40124 ini, pada tahun 1996 Richard juga sempat merilis album kompilasi legendaris yang diberi judul “masaindahbangetsekalipisan”, yang berisi kumpulan lagu dari beberapa band lokal seperti Full of Hate, Rotten to The Core, Sendal Jepit, Cherry Bombshell, Puppen, Balcony, dsb. Sementara itu, Dadan Ketu menyatakan kalau sekarang ini memang sudah sangat biasa kalau ada salah seorang pengunjung distro di Bandung datang dari luar negeri, semisal Singapura atau Malaysia. “Mereka datang biasanya langsung ngeborong, bawa kaset 100 biji untuk dijual lagi di negeri asalnya, ada yang bayar kontan, ada juga yang nyicil,” ujarnya.

Wujud dari terbentuknya jaringan yang meluas ini sebetulnya sudah semakin terasa sejak tahun ‘97. Pada bulan Agustus 1997 sebuah label rekaman punk dari Perancis yang bernama Tian An Men 89 Records merilis sebuah kompilasi yang berjudul “Injak Balik! a Bandung HC/Punk comp”. Kompilasi ini didukung oleh sejumlah band Bandung seperti Puppen, Closeminded, Savor Of Filth, Deadly Ground, Piece Of Cake, Runtah, Jeruji, Turtles Jr, dan All Stupid. Kebanyakan subject matter dari musik dalam album kompilasi ini berisi berbagai statemen politik yang disampaikan secara lugas oleh setiap band yang ikut terlibat di dalam proyek ini. Tidak hanya berhenti di situ, pada tahun 1999, label lokal yang bernama FastForward Records kemudian merilis beberapa album dari band yang berasal dari luar negeri seperti The Chinkees (Amerika), Cherry Orchard (Perancis), 800 Cheries (Jepang), dan lain sebagainya. Menurut Marin, salah seorang pendiri dari FastForward Records, setidaknya media-media komunikasi seperti internet, mesin fax dan jaringan telepon punya andil besar dalam proses produksi album dari band-band ini. Sekarang, label lokal yang merilis musik yang berasal dari luar negeri sudah bukan barang yang aneh lagi. Malah, beberapa band lokal di Bandung juga sudah banyak yang berkesempatan dirilis oleh label di mancanegara. Beberapa diantaranya adalah Homicide, Domestik Doktrin, Jasad, dsb.

Perluasan jaringan yang mempertautkan perkembangan di bidang musik dan fashion dengan perkembangan media dan teknologi informasi ini setidaknya melahirkan sebuah kombinasi perkembangan (kebudayaan) yang baru, baik dari segi ideologi sampai pada manifestasinya dalam pola kehidupan sehari-hari sebagian komunitas anak muda di Bandung. Hal ini menunjukan bahwa bagaimanapun perkembangan yang ada di kota Bandung tidak dapat dipisahkan begitu saja dengan setiap gejala perkembangan di tingkat global. Seiring dengan perkembangan jaman, sampai saat ini scene anak muda di Kota Bandung masih terus tumbuh untuk terus melengkapi pola perkembangannya dengan wajah dan berbagai versinya yang baru. Jangan kaget kalau tiba-tiba anda bertemu dengan sekelompok anak muda dengan gaya yang identik dengan gaya anak muda di belahan dunia yang lain. Kota ini memang sedari dulu sudah menjadi bagian dari kota-kota lain di seluruh dunia. Salut! Selamat datang di Kota Bandung!

Sumber: http://cannizaro.wordpress.com/

Sejarah Clothing dan Distro



Siapa sangka, dari sebuah skatepark kecil di salah satu sudut Taman Lalu Lintas Bandung (Taman Ade Irma Suyani), di awal tahun 1990-an, menjadi tempat bersejarah yang melatar belakangi perkembangan fashion anak muda Bandung dalam satu dekade terakhir ini. Skateboard kemudian menjadi benang merah yang menjadi ciri dan eksplorasi fashion dan lifestyle yang dielaborasi oleh para pelakunya dan membentuk gaya anak muda Bandung hingga saat ini.

Pertemuan di Taman Lalu Lintas membuat Didit atau dikenal dengan nama Dxxxt, Helvi dan Richard Mutter (mantan drumer Pas Band), kemudian bersepakat mengelola sebuah ruang bersama di Jalan Sukasenang Bandung. Ruang ini kemudian dikenal sebagai cikal bakal yang munculnya bisnis clothing lokal untuk anak muda di Bandung. “Cari nama dit, si helvi bilang gitu..waktu itu lagi ngomong-ngomong soal Cihampelas,” Dxxxt mengawali ceritanya ketika saya bertanya darimana nama Reverse berasal. “Kenapa ya, si Cihampelas itu ngga bikin produk-produk dengan merek-merek sendiri, kenapa mereka bikin mereknya reply lah, armani lah.. kenapa ga bikin sendiri, reverse misalnya.. trus Helvi bilang nama itu bagus. Ya udah akhirnya dipakai buat nama toko.” Tahun 1994, mereka membangun studio musik dan toko yang menjual CD, kaset poster, T-shirt, majalah, poster dan asesoris band yang diimport langsung dari luar negeri. Pilihan yang spesifik, membuat barang yang dijual di Reverse, tak bisa didapatkan di toko-toko lain di Bandung pada saat itu.

Reverse pada saat itu menjadi tempat berkumpulnya komunitas-komunitas dari scene yang berbeda. Punk, hardcore, pop, surf, bmx, skateboard, rock, grunge, semua bisa bertemu di tempat itu. PAS dan Puppen adalah beberapa band yang sempat dibesarkan oleh komunitas Reverse. Richard sendiri sempat membentuk record label independen 40.1.2.4 yang rilisan pertamanya berupa album kompilasi “Masaindahbangetsekalipisan”, pada tahun 1997. Band-band yang ikut dalam rilisan itu diantaranya Burger Kill, Puppen, Papi, Rotten To The Core, Full of Hate dan Waiting Room sebagai band satu-satunya dari Jakarta yang masuk dalam kompilasi ini.

Saat krisis ekonomi terjadi pada tahun 1998, bisnis yang dijalani Reverse, mengalami masa sulit sampai akhirnya tutup. Mereka tak mampu lagi membeli barang-barang dari luar negeri kerena nilai dolar terhadap rupiah melambung tinggi dan tak terjangkau. Namun kondisi sulit ini justru melahirkan fase baru dalam perkembangan industri clothing Bandung. Helvi vetaran Reverse, kemudian membangun clothing label bernama Airplane yang memulai usahanya pada tahun 1997. Bukan hanya itu, bersama Dxxxt dan Marin, Helvi membangun record label bernama Fast Foward pada tahun 1999.

Airplane yang didirikannya bersama dua rekannya yang lain: Fiki dan Colay, resmi berdiri pada tanggal 8 Februari 1998. “Awalnya sih kita udah ngga mampu lagi beli barang-barang impor karena mahal dan krisis moneter. Waktu itu kita mikir, kita bikin apa ya? Soalnya kalau beli, ngga ada yang cocok, pengen kaos yang kaya gini ngga ada.. yang gitu ngga ada.. awalnya dari situ, ya udah kita bikin sendiri deh yang pasti dengan background masing-masing. Semua dipengaruhi oleh kehidupan sehari-hari yang kita senangi aja.. biasanya dari skateboard, trus kita juga main musik, trus itu mempengaruhi ke grafis desain clothing itu sendiri. Jadi emang akhirnya macam-macam.” Jelas Helvi ketika saya temui di kantor Airplane di jalan Titiran Bandung.

Transformasi Reverse sebagai clothing company, dimotori oleh Dxxxt pada bulan Februari 2004. Didukung oleh Marin, Wendi Suherman dan Indra Gatot sebagai mitra usahanya. Reverse kemudian menjelma menjadi label yang memfokuskan dirinya pada fashion untuk pria. Urban culture yang menjadi keseharian tim kreatifnya, menjadi inspirasi dalam desain produk-produk Reverse.

Sementara kegemaran skateboard, bmx dan surfing yang ditekuni Dandhy dan teman-temannya, justru memotivasi mereka untuk membuat produk-produk yang mendukung hobi yang mereka cintai. Bukan hal yang mudah untuk menemukan fashion penunjang kegiatan surfing di Bandung pada saat itu. Maka tahun 1996, dari rumah di dago 347 Bandung, mereka mulai memproduksi barang-barang yang menunjang hobi mereka untuk digunakan sendiri. Ternyata apa yang mereka pakai, menarik perhatian teman-teman mereka. Seperti halnya Airplane, dengan modal patungan seadanya mereka mulai memproduksi barang-barang yang mereka desain untuk kebutuhan hobi mereka itu, untuk dijual di kalangan teman-teman mereka sendiri dengan label ‘347 boardrider co.’ Toko pertamanya dibuka pada tahun 1999 dan diberi nama ‘347 Shophouse’ di Jalan Trunojoyo Bandung. Demikian pula Ouval yang muncul di tahun 1998. Awalnya juga dibentuk dengan semangat untuk mengelaborasi hobi skateboard para pendirinya.

Hobi dan semangat kolektivisme terasa sangat kuat mewarnai kemunculan clothing label dan clothing store pada masa itu. Masih di tahun 1996, Dadan Ketu bersama delapan orang temannya yang lain membentuk sebuah kolektif yang diberi nama Riotic. Kesamaan minat akan ideologi punk, menyatukan ia dan teman-temannya. Riotic menjadi label kolektif yang memproduksi sendiri rilisan musik-musik yang dimainkan oleh komunitas mereka, menerbitkan zines, dan membuka sebuah toko kecil yang menjadi distribusi outlet produk kolektif yang mereka hasilkan. Riotic juga dikenal konsisten dalam mendukung pertunjukan-pertunjukan musik punk rock dan underground yang saat itu kerap diselenggarakan di Gelora Saparua Bandung.

Generasi Global

Saat saya menceritakan apa yang dilakukan anak-anak muda Bandung dengan industri clothingnya, pada teman saya, seorang penulis buku “Lubang Hitam Kebudayaan”_ sebuah buku yang mencermati perkembangan budaya massa di Indonesia sampai fase reformasi 1998_Hikmat Budiman, dia berkomentar “Anak Bandung itu jago menyerap desain ‘arsitektur’ global, dibanding dengan anak muda di kota lain. apa yang terjadi di tingkat global, bisa diterjemahkan dan disiasati oleh mereka dan dijadikan komoditas gaya hidup baru dan menjadi trend. Mereka mendefinisikan kembali coolness yang sesuai dengan konteks mereka. selain itu juga ada pasar yang menyerap komoditas baru itu.”

Jika dicermati lebih jauh, apa yang terjadi di bandung pada dekade 90an, memang tak bisa lepas dari kecenderungan global pada saat itu. Musik dan gaya hidup, sebagai dua hal yang tak terpisahkan, memberi pengaruh sangat besar dalam perkembangan fashion anak muda Bandung. Sejak generasi Aktuil di tahun 70’an, Bandung dikenal sangat adaptif pada perkembangan musik dunia. Ketika merunut aliran musik apa saja yang berkembang dalam dekade 90’an, kita bisa melihat bagaimana perkembangan musik itu mempengaruhi eksplorasi anak muda Bandung di bidang fashion. Grunge, yang dipengaruhi oleh punk, muncul di awal tahun 90’an. Sepatu Doc Martens, Converse high top sneaker dan kemeja flanel yang menjadi trend fashion sampai pertengahan tahun 90. Pada kenyataan flanel di gunakan para musisi beraliran grunge ini karena murah dan hangat. Saat grunge kemudian digantikan oleh musik alternatif di pertengahan 90’an dan Nu-Metal yang dimotori oleh Korn sampai menjelang akhir 1990, fashion ini masih terbawa. Hip hop yang banyak digemari para skateboarders dan mempengaruhi perkembangan musik R&B memberi warna lain pada dekade itu. Scene hardcore atau scenecore atau disebut juga emo dan gaya yang dibawa aliran musik pop punk yang dipengaruhi membawa trend fashion yang bersilangan diantara keduanya dan dipengaruhi oleh gelombang ketiga pop punk yang dipelopori oleh Green Day, Good Charlote, Simple Plan.

Extreme sport (diantaranya skateboarding dan surfing), mencapai popularitasnya di tahun 1995. ESPN sebagai saluran extreme sport dan hanya dapat ditonton melalui antena parabola, menjadi salah satu rujukan para skateboarder Bandung pada saat itu. Rujukan lain seperti majalah Thrasher, yang mencitrakan skateboarding sebagai olah raga yang didasari oleh semangat pemberontakan dan akrab dengan ideologi punk, sementara Transworld Skateboarding terasa lebih moderen, beragam dan menjaga citra para bintang skateboarding. Termasuk juga masuknya MTV ke Indonesia yang memperkenalkan lifestyle baru dengan jargon-jargonnya: ‘MTV beda’, ‘MTV Gue Banget’. Perbedaan menjadi komoditas yang dirayakan bersama-sama.

Ketika awal 90’an, fashion skateboarding dunia dipengaruhi oleh perkembangan street skateboarding yang sangat kental nuansa punk rocknya. Baggy dengan oversize denim dan t-shirt extra large menjadi trend pada saat itu. Sementara pertengahan sampai akhir tahun 1990an, trend fashion dalam dunia skateboarding berubah lebih ‘ramping’. Ukuran jeans dan T-shirt, menjadi lebih pas di badan. Bahkan beberapa skateboarder menggunakan jeans dan t-shirt ekstra ketat. Perubahan ini membuat gaya fashion dalam dunia skateboarding terbagi menjadi dua kategori: “punk” (ketat dan ngepas badan) dan “baggy” meski pada prakteknya pembagian itu menjadi sedikit lebih rumit. Celana shagging jeans atau baggy, sweater dari bahan katun atau poliester dengan pull over dan kantong kangguru di depannya atau disebut juga hoodie, baseball caps, dan sepatu vans. Gaya skate punk inilah yang kemudian banyak dieksplorasi dalam desain clothing anak-anak muda Bandung. Majalah katalog seperti Suave, yang terbit di Bandung dengan jelas memperlihatkan pengaruh itu. Pada akhir 90’an apa yang disebut “punk style clothing” menjadi tagline baru dalam perkembangan industri clothing global. Gaya punk kemudian menjadi sesuatu yang mainstream, mendunia dan menjadi mapan.

“Kita emang banyak dipengaruhi oleh musik yang kita sukai, dari label-label skateboard yang kita pakai dulunya, karena kita besarnya, growing upnya di situ. Karena musik ini kan sangat terkait dengan fashion,” Helvi yang juga creative director Airplane, mengakui hal itu.

Pendapat helvi diperkuat Arian tigabelas, mantan vokalis Puppen dan kini menjadi vokalis band Seringai “Ada fenomena yang menarik ceuk urang mah, dulu Bandung terkenal dengan band-band yang keren-keren tapi waktu berlalu dan rupanya band nggak terlalu menghasilkan/menghidupi, dan kini para pelaku band tersebut pindah ke clothing. Jadinya terus terang band Bandung yang punya nama ‘gede’ sekarang udah ngga signifikan. Tapi clothing jadi industri yang lebih jelas bisa menghidupi iya, karena main band ternyata tetap kere sementara realitanya musti punya modal hidup.”

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat dalam dekade 90’an, menjadi faktor penting dalam proses yang disebut Hikmat Budiman sebagai penyerapan desain arsitektur global. Ketika tahun 1995 bisnis Internet Service Provider (ISP) mulai berkembang di Jakarta, menurut catatan Kompas, Bandung menjadi salah satu dari tiga kota pengguna jasa internet terbesar. Jika saat itu tercatat di ada sekitar 14 ribu pemakai internet di Indonesia, Bandung menjadi kota pengguna internet terbesar ketiga (1.000 pengguna), setelah Jakarta (10.000 pengguna) dan Surabaya (3.000 pengguna). Bagaimana kemudian perkembangan teknologi informasi ini diserap dalam waktu yang hampir bersamaan di Bandung. Belanja online yang dilakukan Reverse untuk memperoleh produk-produk import yang mereka jual kembali di Bandung. Juga yang dilakukan Anonim yang muncul tahun 1999, mengikuti jejak pendahulunya dengan menjual t-shirt import merchandise band yang dipesannya melalui internet.

Dalam perkembangannya, eksplorasi desain clothing anak-anak muda Bandung, banyak juga dipengaruhi oleh gaya street fashion Jepang yang terasa lebih eklektik dan eksperimental. Majalah Trolley (alm 2001-2003), sempat menerbitkan suplemen khusus mengenai gaya street fashion Jepang ini dalam salah satu edisinya.

Pergeseran kiblat kreatif global dari Amerika ke Inggris/Eropa dalam tiga tahun terakhir ini, juga terasa pengaruhnya. Perubahannya sangat jelas terasa dalam scene musik. Street culture Inggris dan Eropa kemudian menjadi sumber rujukan baru dalam mengelaborasi desain produk-produk clothing kemudian. Tahun 2006 ini, Fast Foward record, telah dua kali mendatangkan grup musik dari Eropa untuk pentas di Bandung_King of Convinience (Norwegia) dan Edson (Swedia).

Ketika masa kekuasaan Orde Baru berakhir, kehidupan sosial politik Indonesia mengalami banyak perubahan di era reformasi. Warga Bandung memperlihatkan pola relasi yang baru dengan ruang-ruang publik yang ada di kota Bandung. Beragam aktivitas dan perayaan dilakukan di jalan. Jalanan seperti Dago, menjadi catwalk publik yang mengundang siapa pun yang datang untuk menampilkan gaya dandanan mereka. Individu kemudian mendapat ruang untuk mengekspresikan diri. Saat itu, banyak pertunjukan-pertunjukan musik yang kemudian disponsori oleh clothing company yang mulai memiliki kemampuan ekonomi.

Selain karena minat pada musik yang mereka sponsori, acara-acara seperti itu kemudian menjadi salah satu strategi bersama untuk mempromosikan merek produk-produk clothing yang mereka buat. Monik, Celtic dan Popcycle management, dikenal secara berkala menyelenggarakan konser La Viola bekerjasama dengan pusat Kebudayaan perancis (CCF) bandung. Marin, selain menjadi salah satu pemilik Monik, Celtic, Fast Foward, Reverse clothing Company, juga memiliki TRL bar di Jalan Braga. dari bar kecil itu pula, eksplorasi musik elektronik yang banyak mewarnai perkembangan musik global beberapa tahun terakhir ini, banyak dilakukan. Salah satu pilihannya adalah sekolah Drum n Bass yang dimotori oleh DJ xonad, jenis electronic dance music ini berkembang di Inggris pada dekade 90’an dan semakin dikenal pada awal tahun 2000 serta berkembang di beberapa negara Eropa dalam dua tahun terakhir ini.

“Karena Bandung kotanya kecil, jadi mau ngapa-ngapain gampang… lagian orang-orangnya kekeluargaan, cair banget, babaturanlah, semua dianggap sama,” Ujar Dede anonim, seperti saya kutip dari tulisan Gustaff H. Iskandar, ‘Fuck You! We’re from Bandung. Kondisi inil, masih menurut Gustaff, membawa berkah istimewa bagi perkembangan musik dan juga street fashion di Bandung. Dan mendorong pertumbuhan clothing store (distro) di Bandung.

Sejumlah Persoalan

Di masa boom clothing store 2003 lalu, Kompas pernah menulis: “Adapun untuk membuka sebuah distro, hanya dibutuhkan modal “nekat”. cukup menyediakan sebuah ruangan kecil, misalnya mengambil salah satu sudut rumah seperti garasi. Lalu barang-barangnya bisa digunakan sistem jual titip, dengan menerima titipan barang dari berbagai clothing company. Bila barang-barang titipan itu laku terjual, barulah disisihkan keuntungan untuk si distro (clothing store).”

Namun pada prosesnya tidak sesederhana itu. Modal nekat saja tidak cukup. Bagaimanapun bisnis yang dilatari oleh hobi dan kesenangan pun mengandung bermacam resiko. Benturan kepentingan yang mempertentangkan antara bisnis dan idealisme, menyeruak sebagai sebuah konsekuensi yang harus dihadapi dan disiasati.

“Saya bukan orang bisnis tadinya, akhirnya saya harus belajar bisnis, kasihan guanya gitu..” Seloroh Dandhy dalam sebuah Gathering Komunitas Kreatif di Bandung, bulan April lalu. “Gua ngerasa banyak hambatan dalam kreativitas karena banyak kepentok,” meski ucapan Dandy itu bernada main-main, namun pada prakteknya, keseriusan dalam mengelola bisnis ini memang menjadi proses adaptasi yang berat. Beberapa Clothing yang sudah cukup kuat seperti Airplane dan 347/eat, sengaja menyewa konsultan manajemen dan bisnis untuk memberi masukan dalam pengembangkan usaha mereka. Fiki manajer bisnis sekaligus salah satu pendiri Airplane mengaku, saran-saran bisnis dari konsultan profesional tidak seluruhnya bisa di terapkan. “Tetap aja, kita harus nemuin cara yang paling sesuai dan enak buat kita jalani. Ngga bisa sepenuhnya berdasarkan teori manajemen.” Hal serupa juga dirasakan Dandhy. Konsultan bisnis yang mengawasi kinerja dirinya dan teman-temannya, malah membuat mereka bekerja dalam suasana yang tidak nyaman. Akhirnya Dandhy memilih mengembalikan suasana kerja yang nyaman, meskipun itu berarti tanpa konsultan bisnis.

Fiki, menjelaskan, untuk membesarkan bisnis yang semula dibangun berdasarkan hobi, butuh kedisiplinan tinggi dalam mengelolanya. “Gua ngejalanin Airplane ini bener-bener disiplin. Kita muterin duit yang ada dan disiplin untuk ngejalanin itu. Dan ngga pernah ada suntikan dana lagi sejak dana awal. Airplane bediri udah sejak tahun 1997, tapi bener-bener ngejalanin bisnisnya sejak buka toko, tahun 2001. Sejak September 2001, waktu itu kita mulai dengan uang kurang dari 10 juta untuk sewa tempat dan kita udah punya omset yang lumayan, tapi kalau ada lebihnya kita simpen dan dipake untuk produksi lagi, nambahin modal. Karena kita punya sedikit pengetahuan tentang administrasi juga, makanya bisa tertib administrasi dan itu kerasa banget gunanya.”

Namun tidak semua clothing company memiliki kemampuan untuk membayar konsultan bisnis atau melakukan pembagian kerja yang jelas. Bagi clothing company yang muncul belakangan, idealisme dan keterbatasan modal menjadi tantangan yang harus disiasati lebih keras lagi. Karena secara bisnis, mereka harus berhadapan dengan clothing teman-temannya yang muncul dan mapan lebih dulu.

Dari segi pengembangan desain, tidak banyak juga yang melakukan riset dan pengembangan desain secara serius. Akibat dari boom clothing di tahun 2003, follower yang muncul belakangan, banyak yang asal jiplak desain-desain yang sudah ada. Karena untuk membangun sebuah karakter desain yang kuat dibutuhkan waktu dan proses yang lama. Menanggapi kekawatiran desainnya dijiplak, baik Helvi maupun Dandhy, justru tidak merasa kawatir. Bagi Helvi, kondisi seperti itu, malah membuat ia lebih fokus lagi menemukan karakter desain Airplane. Begitu pula Dandhy, jika imagenya sudah kuat, tak perlu kawatir dengan para peniru. Keseriusan dalam soal desain dan visual inilah yang kemudian membedakan dan menjadi ciri antara clothing satu dengan yang lain.

United we stand

Waktu menunjukan hampir tengah hari. Cuaca begitu cerah. Ruang tengah Jalan Kyai Gede Utama 8 Bandung, terasa guyup, menggantikan kelengangan yang biasa terasa. Sekelompok anak muda duduk-duduk santai di bangku-bangku kayu, di taman terbuka. Wajah-wajah lama, generasi pertama clothing Bandung paska 1995, bercampur dengan wajah-wajah baru generasi pengikutnya. Bukan hal yang mudah, mengumpulkan mereka dalam satu waktu. Riuh suara canda dan tawa, bercampur kicauan burung-burung yang sejak lama menghuni pepohonan di sekitarnya. “Sekarang kita mau jadi seperti apa? Arahnya apakah asosiasi yang dijalankan dengan praktek mafia? Atau gimana? Apakah kita bikin asosiasi untuk bikin counter yang menjegal praktek kartel? Atau asosiasi ini hanya mengakomodasi kepentingan dan ideologi yang sama, dan menghancurkan lawan yang berbeda pandangan? Atau tujuannya sosial atau kemanusiaan.” Dandhy pemilik clothing 347/eat, melemparkan pertanyaan itu ke forum. Perdebatan panjang tiga puluh orang yang hadir disitu pun dimulai. Canda tawa, berubah serius. Masing-masing sibuk memikirkan jawaban dan saling beragumen sampai berjam-jam kemudian. Saya hadir disitu, mencatat waktu. Hari itu, Senin, 12 Juni 2006. Hari dimana asosiasi para pengusaha clothing yang dinamai ‘Forum Komunikasi Pengusaha Clothing Bandung’, di deklarasikan.

Bagi saya, ini memang sudah waktunya, ketika akhirnya para pengusaha muda clothing Bandung ini mau bersatu padu membuat Forum Komukasi. Hal ini bukannya tanpa sebab. Mereka yang selama ini tak terpetakan sebagai potensi ekonomi, tiba-tiba bukan hanya dilirik, tapi coba dirangkul pemerintah lewat program bantuan Industri Kecil dan Menengah, Disperindag. Mengutip apa yang diberitakan Harian Pikiran Rakyat tanggal 8 Juni 2006, Drs. H. Agus Gustiar, M.Si., selaku Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), “Bagaimanapun kekuatan kita ada pada IKM. Supaya lebih kuat, semua IKM harus bersatu untuk membuat terobosan baru yang bisa mengangkat Bandung khususnya.” …Agus yakin, industri distro Bandung memiliki ciri khas tersendiri yang diilhami dari kreativitas anak muda Bandung.” Jangan sampai ini hilang seperti beberapa merek Bandung yang sekarang mulai memudar, bahkan tidak dikenal orang. Padahal ini merupakan potensi Bandung yang harus ditonjolkan.”

Dalam kegiatan Gathering Komunitas Kreatif dan Online conference yang diselenggar akan selama bulan April-Mei 2006, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Urban Desain dan Common Room Networks Foundation, mengidentifikasi persoalan-persoalan eksternal yang dihadapi selama ini. Masalah-masalah itu muncul, ketika selama ini pemerintah sama sekali tidak mendukung aktivitas yang mereka lakukan. Tidak adanya regulasi pemerintah yang jelas dalam pengembangan industri berbasis kreatifitas seperti yang dilakukan Clothing company selama ini, juga strategi pengembangan industri berbasis kreatifitas sebagai salah satu pengembangan ekonomi kota yang berkelanjutan. Belum lagi pengelolaan pajak yang tak jelas timbal baliknya. Persoalan ketiadaan infrastruktur dan ketidak jelasan pengaturan tata guna lahan di Bandung untuk kawasan komersial, menyebabkan nilai ekonomi lahan semakin mahal dan tak terjangkau dalam mengembangkan usaha yang selama ini mereka jalankan. Pada akhirnya, dukungan yang digembar-gemborkan pemerintah untuk mendukung Industri Kecil Menengah dan membangun kecintaan akan produk dalam negeri, hanya menjadi jargon belaka.

Disadari atau tidak, clothing industry yang muncul dan berkembang di Bandung ini, justru memicu perkembangan industri-industri kecil baru yang juga berbasis kreatifitas. Secara organik, infrastruktur pendukungnya, bermunculan satu persatu. “Waktu itu lagi booming-boomingnya clothing, trus gue pikir, ngapain juga ikut-ikutan bikin clothing, mendingan gue bikin usaha lain yang bisa mendukung usaha mereka. Ada kesadaran itu di gue dan tiga orang teman gue yang lain, gue ngeliatnya orang-orang ini udah harus profesional lah, kalo mereka berbisnis ya harus berpromosi, mereka punya produk yang bagus, buat apa kalo ngga berpromosi,” ungkap Uchunk, salah satu pendiri Suave, Free Catalogue Magazine, ketika saya temui disebuah tempat nongkrong di Bandung. Suave awalnya dicetak sebanyak 3000 eks dengan modal sebuah komputer pribadi. Kini tirasnya mencapai 8000 eks dengan 90 halaman full color. Selain didesain dengan tampilan yang menurut Uchunk, terlihat mainstream, jauh dari kesan indie dan underground, Uchunk juga memberi halaman galeri bagi siapapun yang ingin memamerkan karya grafisnya di satu halaman Suave.

Menurut uchunk, saat ini banyak clothing company yang kemudian menggunakan jasa desainer grafis, fotografer dan biro iklan untuk menggarap materi promosi produk yang bersangkutan. Baginya kondisi ini sangat menggembirakan, karena bidang industri kreatif lainnya kemudian bermunculan. Helvi menambahkan, “Waktu kita bikin ini, ngga kepikiran kalau di depan ternyata akan berhubungan dengan segala macam. Fotografer, advertising, itu kan seru jadinya. Jadi kaya punya dunia sendiri, infrastrukturnya jadi kebentuk dan ini adalah wilayahnya anak muda.”

Wajar saja, jika kemudian tawaran yang datang tiba-tiba ini, disikapi dengan membentuk Forum Komunikasi yang bertujuan untuk memperkuat dan saling mendukung satu sama lain. Banyak persoalan baik internal maupun eksternal yang selama ini harus disiasati dan dipecahkan sendiri oleh mereka. Karena itu, tawaran pemerintah, seperti sesuatu yang to good to be true. Mereka bukannya resistan terhadap niat baik pemerintah, namun yang mereka harapkan adalah kejelasan dalam proses negosiasi dimana posisi tawar kedua belah pihak bisa berjalan dengan seimbang. Dalam hal ini mereka memperlihatkan, apa yang disebut Gustaff H. Iskandar dalam tulisan yang sama, sebagai kemandirian politik dan ekonomi.

Perspektif kemandirian, kemudian menjadi prinsip yang selalu dimaknai kembali oleh mereka. Ketika kemandirian berarti memulai impian besar dengan langkah-langkah kecil. Dengan patungan modal seadanya. Juga ketika usaha ini berkemban dan mendapatkan perhatian, kemandirian berarti membangun posisi tawar mereka ketika bertarung dengan banyak kepentingan-kepentingan lain. Pemerintah salah satunya.

***

Dan disaat, banyak orang kemudian mengeluh, bahwa produk clothing menjadi seragam, waktu yang akan membuktikan mana yang kemudian konsisten menjalani proses eksplorasi terus menerus untuk menemukan kematangan produk atau malah inovasi-inovasi baru dan mana yang kemudian hilang seperti merek-merek Bandung yang memudar dan tak dikenal orang seperti yang dikawatirkan Agus Gustiar.

Setidaknya sampai hari ini, setelah satu dekade yang panjang mereka berproses terus menerus, kekawatiran itu tidak terbukti. “Yang paling keren menurut gua adalah, dimana sekarang anak-anak muda ngga gengsi dan malu lagi pake produk lokal. Dan kita juga seneng, karya kita dihargai orang dari mulai yang naik angkot sampai mobil mewah, pake kaos lokal.” Helvi mengatakan itu dengan mata-mata berbinar-binar lega. Kelegaan yang saya rasakan bukan hanya miliknya, tapi juga komunitasnya, teman-teman sepermainannya, ketika kerja keras mereka, membuktikan sesuatu, bukan sekedar jargon belaka.

Tulisan ini adalah versi pertama untuk PB Magz yang tidak di terbitkan.